PRB YANG PRAKTIS DAN TERLEMBAGA

Man with guitar.

Oleh : Arbeiter Samariter Bund Indonesia

SD Sukorejo 3, Mertoyudan, Magelang terletak di daerah dataran rendah yang jauh dari wilayah rawan bencana. Hal ini membuat sekolah tersebut tidak memprioritaskan kegiatan pengurangan risiko bencana (PRB) di sekolah. Tahun 2017, pertama kalinya sekolah terlibat dalam kegiatan sekolah madrasah aman bencana (SMAB). Setelah mengikuti rangkaian pelatihan PRB inklusi, guru sadar akan pentingnya membekali siswa tentang materi PRB. Aksi yang  dilakukan saat itu membentuk tim siaga bencana dan kemudian bersama-sama mengajarkan materi PRB tersebut kepada para siswa. Informasi PRB yang praktis tidak hanya memudahkan guru  untuk memahami dan menyampaikan ke siswa, tapi juga membuat siswa semangat untuk terlibat aktif dalam belajar PRB. Antusiasme siswa terlihat saat mempersiapkan tas siaga di setiap kelas dan membantu guru memasang rambu-rambu jalur evakuasi.

Praktik simulasi evakuasi di sekolah sudah dilaksanakan secara rutin. Terhitung 3 kali sekolah tersebut menyelenggarakan simulasi evakuasi. Bahkan saat bel sirine dibunyikan secara tiba-tiba suatu waktu, para siswa dengan sigap langsung melakukan perlindungan dan penyelamatan secara mandiri. Terlebih lagi salah satu siswa di SD Sukorejo 3 memiliki hambatan mobilitas, penting untuk mengenali sejauh mana kesulitan yang dialami saat evakuasi dan dapat membuat rencana aksi untuk evakuasi.

Lain cerita dengan SLB Ma’arif Muntilan. Sekolah khusus bagi siswa dengan disabilitas memang bukan pertama kalinya menyelenggarakan kegiatan PRB. Sejak erupsi Merapi tahun 2010, sekolah ini menerima bantuan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyelenggarakan kegiatan PRB. Salah satu persiapan yang dilakukan saat itu dengan menyediakan alat peringatan dini yang dapat diakses oleh siswa dengan berbagai hambatan. Di SLB Ma’arif Muntilan terdapat siswa dengan hambatan melihat, mendengar dan intelektual. Maka dari itu, sekolah mempersiapkan alat peringatan dini terpadu yaitu sirine dan lampu. Apabila saklar dipencet, maka akan mengeluarkan suara bel dan lampu menyala.

Awalanya setiap kali menyelenggarakan praktik simulasi evakuasi, pihak sekolah selalu mengajukan pendanaan ke pemerintah. Namun sejak terlibat dalam program SMAB, ternyata sekolah menyadari bahwa kegiatan PRB praktis bisa terlaksana tanpa memerlukan biaya. Praktik simulasi evakuasi telah dilaksanakan secara mandiri, menyeluruh dan bebas biaya. Penerapan materi PRB praktis yang disisipkan pada mata pelajaran telah dilakukan setiap bulannya melalui praktik simulasi evakuasi. Dengan pembiasaan tersebut, diharapkan siswa berkebutuhan khusus semakin peka dan sigap untuk melakukan perlindungan dan penyelamatan

Pedoman Pendidikan Kebencanaan di Satuan PAUD

Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini dalam melaksanakan tugas dan fungsinya menyusun norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang pendidikan anak usia dini terus berupaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini di seluruh Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyiapkan pedoman pendidikan kebencanaan sebagai panduan bagi satuan PAUD dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana yang kerap terjadi di Indonesia.

Pedoman Pendidikan Kebencanaan di Satuan PAUD ini berisikan apa, mengapa dan bagaimana cara mengintegrasikan muatan pendidikan kebencanaan dalam kurikulum tingkat satuan yang disusun oleh satuan PAUD. Upaya ini merupakan tindakan penting dan mendasar yang bukan hanya sebagai tindakan pengembangan atau pengayaan kurikulum, tetapi juga merupakan tindakan preventif bagi kehidupan setiap anak dalam menghadapi peristiwa tersebut di masa yang akan datang, sehingga ketika dihadapkan pada kejadian nyata setiap anak telah memiliki kesiapan yang memadai dalam menghadapinya.

Pedoman ini disajikan secara menarik dan aplikatif agar dapat dipahami dan dilaksanakan oleh tenaga pendidik dan kependidikan serta semua pihak yang memerlukan informasi tentang bencana, penanggulangan dan antisipasinya. Akhirnya, kami menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah membantu, memberikan saran dan masukan sehingga pedoman ini dapat diterbitkan.

Pedoman ini sangat terbuka untuk perbaikan bagi penyempurnaan di masa mendatang, untuk itu kami mengundang pembaca memberikan masukan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-NYA serta menghindarkan kita dari bencana.

Suplemen Belajar Mandiri Bagi Peserta Didik Sekolah Dasar

Suplemen belajar mandiri disusun oleh Direktorat Sekolah Dasar pada tahun 2019 untuk memenuhhi kebutuhan sarana pembelajaran bagi peserta didik yang memiliki keterbatasan akses ke fasilitas pembelajaran dikarenakan dampak bencana, konflik sosial maupun hambatan akses lain baik dari sisi geografi, ekonomi dan sosial. 

Suplemen Belajar Mandiri disusun selaras dengan Buku Pembelajaran Tematik Terpadu yang mengacu pada kompetensi Dasar Kurikulum 2013. 

Suplemen belajar mandiri masih membutuhkan perbaikan dan penyempurnaan. kritik, saran, dan masukan perbaikan dapat disampaikan ke Direktorat Sekolah Dasar.